Minggu, 24 Oktober 2010

Tenun Baduy

Anda pasti kenal Tenun, salah satunya adalah tenun baduy asli Banten mulai banyak digemari sebagai bahan baku fashion. Namun, kabar menggembirakan tersebut sekaligus memunculkan kekhawatiran bahwa hasil kerajinan asli Suku Baduy ini akan bakal ditiru orang lain bahkan dijiplak oleh bangsa lain.

Sebab, tenun baduy yang memiliki kekhasan unik baik dari segi bahan maupun warnanya, ternyata juga sudah pernah masuk ke pasar Eropa dan Timur Tengah. Konon dari hasil tenun yang terbuat dari benang kapas warna hitam atau hitam bergaris putih, dan tekstur kainnya yang kasar, justru membuat peminat merasa nyaman dan cocok dengan cuaca di Eropa dan Timur Tengah.

Memang tenun baduy belum setenar tenunan dari wilayah lainnya di Indonesia, seperti tenun songket. Tapi, tenun buduy tak kalah uniknya dengan kain khas Nusantara lainnya dan disukai hingga ke mancanegara. Sejumlah komunitas tenun nusantara pun mulai melirik tenun Baduy untuk dijadikan bahan baku fashion. 

“Tentunya ini peluang pasar yang menggembirakan,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banten, Hudaya Latuconsina, di Serang, Banten, Senin (25/10). Menurut Hudaya, yang bisa yang bisa dilakukan Disperindang Banten untuk menghindari peniruan dan penjiplakan, yakni segera mendaftarkan karya tenun baduy Banten sebagai hak paten milik dan karya budaya asli Suku Baduy Banten. "Ini perlu dilakukan karena ada perbedaan yang jelas dengan tenun dari daerah lain." katanya.

Hudaya mengaku khawatir jika karya tenun baduy dipatenkan bukan oleh Suku Baduy melainkan oleh orang lain bahkan oleh negara lain. "Karena itu akan kami kuatkan sebagai hak kekayaan intelektual suku Baduy," jelasnya.Hudaya mengaku optimistis melihat masa depan tenun Baduy di pasar dalam dan luar negeri. “Karena itu kami coba lakukan pendampingan kepada warga Baduy untuk mengembangkan motif, warna, serta ukuran tenunan,” katanya.

Hudaya mengaku menemui kendala untuk mengembangkan tenun Baduy, sebab masyarakat Baduy secara kultur sulit untuk menerima perubahan. Namun, melalui pendekatan dan pengertian yang telah diberikan oleh para pendamping selama berbulan-bulan, ternyata kreativitas masyarakat Baduy dalam menenun mulai muncul.

sumber : republika



Tidak ada komentar:

Posting Komentar