Rabu, 03 November 2010

Mbah Ronggo Juru Kunci Gunung Kelud

Nama Mbah Ronggo muncul ke permukaan setelah status Gunung Kelud dinyatakan waspada pada 10 September 2007 lalu. Rasa was-was masyarakat di Desa Sugehwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, terobati setelah Mbah Ronggo menyatakan bahwa kelud belum waktunya meletus. Akhirnya, warga lain kembali berladang dan para petani setiap pagi tetap mencari pakan ternak atau memetik cengkeh.

Mbah Ronggo berperawakan sedang. Sedikit lebih kecil dibanding pria sepantarannya. Namun kekuatan batin lelaki yang tinggal di kaki Kelud ini tidak perlu diragukan. Banyak warga Desa Sugihwaras meminta petunjuk kepada pria yang bernama asli Parjito itu. Warga meminta petunjuk itu sebelum mereka berladang atau sekadar untuk mengetahui cuaca di sekitar Kelud.

Warga Desa Sugihwaras yang terdiri atas empat dusun, yakni Dusun Sugihwaras, Margorejo, Mulyorejo, dan Jambon selalu menunggu keterangan dari Mbah Ronggo tentang aktivitas gunung yang berada di Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, Jawa Timur itu.

Saat itu, tim Tanggap Darurat Aktivitas Kelud (TDAK) terus menemukan peningkatan aktivitas Kelud, namun dalam kepercayaan batin Mbah Ronggo, Kelud belum akan meletus. Bukan karena tidak percaya dengan temuan tim ahli seiring terus terjadinya perubahan warna kawah dan peningkatan suhu, kekuatan batin juru kunci ini mengirimkan sinyal khusus.

Mbah Ronggo ditetapkan sebagai juru kunci Gunung Kelud oleh Pemkab Kediri saat menggelar larung sesaji pada 2005. Pria yang dikaruniai dua anak dari dua istri ini disepakati menjadi juru kunci oleh 42 sesepuh desa.

21 Gunung Api Indonesia Siap Meletus

Pusat Mitigasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) ESDM mencatatkan, ada 21 gunung api yang aktivitasnya sedang meningkat.

"Catatan kita ada 18 gunung yang berstatus waspada, 2 siaga dan 1 berstatus awas," kata Kepala Sub Bidang Pengamatan Gunung Berapi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agus Budianto, Selasa (2/11/2010).

Agus menambahkan gunung api di Indonesia yang berbahaya sebanyak 68 gunung yang tersebar di seluruh wilayah. "Ada 21 yang statusnya waspada hingga awas, dari 68 gunung api bertipe A yang kami pantau," katanya.

Gunung tipe A adalah gunung yang pernah bererupsi sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600. Sedangkan gunung tipe B adalah gunung yang sesudah tahun 1600 tidak lagi mengalami erupsi. Gunung tipe C adalah gunung berapi yang erupsinya tidak diketahui dalam sejarah manusia, atau tidak ada catatan letusannya.

"Ini kami sampaikan agar masyarakat lebih waspada, karena gunung-gunung itu sering didaki, juga sering untuk jalan-jalan, banyak aktivitas warganya. Dengan pemberitahuan ini agar diperhatikan jika ada hembusan panas," lanjut Agus.

18 Gunung yang berstatus waspada:
1. Gunung Sinabung (Karo, Sumut)
2. Gunung Talang (Solok, Sumbar)
3. Gunung Kaba (Bengkulu)
4. Gunung Kerinci (Jambi)
5. Gunung Anak Krakatau (Lampung)
6. Gunung Papandayan (Garut, Jabar)
7. Gunung Slamet (Jateng)
8. Gunung Bromo (Jatim)
9. Gunung Semeru (Lumajang, Jatim)
10. Gunung Batur (Bali)
11. Gunung Rinjani (Lombok, NTB)
12. Gunung Sangeang Api (Bima, NTB)
13. Gunung Rokatenda (Flores, NTT)
14. Gunung Egon (Sikka, NTT)
15. Gunung Soputan (Minahasa Selatan, Sulut)
16. Gunung Lokon (Tomohon, Sulut)
17. Gunung Gamalama (Ternate, Maluku Utara)
18. Gunung Dukono (Halmahera Utara, Maluku Utara)

2 Gunung yang berstaus siaga:
1. Gunung Karangetang (Sulut)
2. Gunung Ibu (Halmahera Barat, Maluku Utara)

1 Gunung bersatus awas, yakni Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta.

3 Desa Masuk Kawasan Rawan Bencana

Tiga desa yang masuk Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Merapi itu ialah Balerante, Tegalmulyo, dan Tegalmulyo. Ketiga desa tersebut berjarak sekitar tujuh kilometer dari puncak gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta itu. Ketebalanan abu yang menutup tiga desa tersebut berkisar 0,5 hingga 10 sentimeter.

"Kalau di Dukuh Tlaju, tidak hanya hujan abu tetapi sudah hujan lumpur vulkanik," kata beberapa warga setempat yang telah tiba di Posko Pengungsian Merapi Di Desa Dompol, Kecamatan Kemalang.

Gunung Merapi sejak Kamis (4/11) sekitar pukul 05.00 hingga 10.15 WIB masih terus mengeluarkan suara gemuruh yang diduga luncuran lava secara intensif dan sesekali terdengar suara letusan yang terdengar hingga Lapangan Sidorejo. Akibatnya, anggot tim SAR tidak ada lagi yang berani masuk desa tersebut. Mereka tetap mengamati situasi Gunung Merapi dari Lapangan Sidorejo, Kecamatan Kemalang.

Tiga desa yang tertutup abu vulkanik itu tampak seperti perkampungan mati karena telah ditinggalkan warganya. Jumlah penduduk di Balerante ialah 1.662 orang, Sidorejo 3.973 jiwa, dan Tegalmulyo 2.156.

Hingga sekitar pukul 11.00 WIB puncak Gunung Merapi tertutup awan dan tidak kelihatan dari Lapangan Sidorejo, Kecamatan Kemalang.

Sumber :  inilah.com

Visit Lombok-Sumbawa Year 2012

Lombok dan Sumbawa siap menyambut satu juta wisatawan dalam program Visit Lombok-Sumbawa Year 2012. "Saat berlangsungnya program itu, kami akan menjadi tuan rumah lima ajang MICE (meeting, Imcnentive, comferece, exhibition internasional, di antaranya pertemuan ahli rumput laut dunia, dan kami berharap bisa menjadi tuan rumah Asia Tourism Forum (ATF), 7-17 Juni 2012," kata Kepala Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat Lalu Gita Ariadi, kepada wartawan, baru-baru ini.

Ia menjelaskan, untuk menyambut Tahun Kunjungan Lombok-Sumbawa 2012 itu, ketersediaan kamar hotel berbintang akan ditingkatkan dari saat ini 2.500 kamar menjadi 4.000 kamar.
"Dan kami berencana membangun convention hall untuk menampung 6.000. peserta ATF," kata Lalu.

Guna menyukseskan Visit Lombok Sumbawa Year 2012 itu, pihaknya akan berpromosi di sejumlah pasar tradisional potensial seperti Australia, Singapura, China, dan Timur Tengah. "Khusus untuk menjaring pasar wisatawan nusantara, kami telah bekerja sama dengan kepala wilayah terkait untuk mengusulkan kepada kantor kementriannya agar menyelenggarakan kegiatan MICE di Lombok dan Sumbawa," katanya.

Dalam waktu dekat, kata Kadis Pariwisata NTB itu, Badan Promoisi Pariwisata NTB juga akan membuka kantor perwakilan di Jakarta, karena Jakarta dianggap sebagai pasar potesial untuk wisatawan nusantara.
"Selain itu kami juga ingin mengajak investor untuk berinventasi di sektor pariwisata di NTB. Pemda akan memberikan insentif khusus bagi investor di bidang pariwisata ini," katanya. 

sumber : inilah.com

Senin, 01 November 2010

Waspadai Cuaca Ekstrim

Yahoo - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Maritim Teluk Bayur Padang, mengimbau pelaku pelayaran dan nelayan untuk mewaspadai cuaca ekstrim yang masih berpotensi terjadi empat hari ke depan di perairan pesisir Sumatera Barat. "Prakiraan gelombang laut Pantai Padang-Mentawai empat hari ke depan masih berpotensi dua sampai tiga meter. Kita minta semua pihak terkait waspada agar terhindar dari hal tak diinginkan," kata Kepala BMKG Maritin Teluk Bayur Padang, Amarizal di Padang, Senin.

Menurut Amarizal, berlangsung cuaca ekstrim di wilayah pesisir pantai barat Sumbar beberapa hari terakhir, dan empat hari ke depan karena dipicu terjadinya badai tropis di perairan selatan Bengkulu-Lampung.
Akibatnya memicu pertumbuhan awan di wilayah pesisir pantai barat Sumbar, termasuk potensi angin kencang yang bisa berpengaruh terhadap gelombang laut. Jadi, tambahnya, angin semuanya mengarah ke wilayah pesisir pantai barat Sumbar, sehingga potensi gelombang di kawasan perairan laut lepas atau bagian barat Mentawai bisa mencapai empat sampai lima meter.

Sedangan di perairan Sumbar antara pantai Padang-Mentawai sewaktu-waktu gelombang laut bisa saja lebih tinggi dari yang diprakirakan, bila ada angin dan cuaca akan hujan. Justru itu, diingatkan kepada para nelayan dan pelaku pelayaran untuk lebih waspada, terutama kalau cuaca mau hujan agar terhindar bencana. Selain itu, relawan dan tim evakuasi dalam menjalankan misi kemanusian di perairan Kepulauan Mentawai, untuk tetap lebih berhati-hati. "Umumnya dalam penyebaran logistik bantuan di Kepulauan Mentawai, untuk korban gempa dan tsunami kapal-kapal kecil nelayan," katanya.

Oleh karena itu, bila cuaca akan turun hujan supaya ditunda perjalanan terlebih dahulu agar tidak terjadi hal-hal diluar dugaan. "Cuaca cepat berubah sehingga perlu kewaspadaan masyarakat, dan nelayan serta pelau pelayaran," imbaunya. Cuaca di wilayah Kota Padang, sejak akhir pekan tidak menentu yang menimbulkan kekhawatiran sejumlah warga. Cuaca sejak pagi mendung, tiba-tiba turun hujan disertai angin kencang. Namun, berlangsung sekitar 30 menit kembali redah, dan berjarak sejam kemudian hujan turun lagi yang disertai angin kencang dan terus berulang hingga malam harinya.

Cuaca Buruk Hadang Tim Medis

Yahoo - Empat perahu bermotor membawa 26 orang dokter dan dua jurnalis televisi nasional terdampar di Tanjung Sabeu, Kecamatan Pagai Selatan, Kabupaten Mentawai, setelah dihadang badai dan gelombang besar saat menuju lokasi pengungsi tsunami. Koordinator Lapangan Tim Badan SAR Nasional (Basarnas) Akmal di Sikakap, Senin, menjelaskan, empat perahu bermotor itu dihadang cuaca buruk saat berlayar di perairan laut Simalako, sehingga kru perahu terpaksa menepi dan terdampar.

Tim medis dan kru televisi itu bermaksud mengantarkan bantuan bahan logistik dan obat-obatan di daerah terpencil yang terkena tsunami. Menurut dia, tim Basarnas kehilangan kontak dengan tim tersebut sekitar pukul 17.00 WIB. Namun sekitar pukul 19.00 salah seorang anggota tim dapat dihubungi melalui HP satelit yang menyebutkan empat perahu itu terdampar di daerah Tanjung Sabeu dan ke-28 penumpangnya selamat, tambahnya.

Tim SAR belum bisa mengevakuasi atau menjemput 28 orang yang terdampar itu, selain karena malam juga disebabkan gelombang laut menuju Tanjung Sabeu masih tinggi dan cuaca buruk. Menurut rencana tim SAR akan mengevakuasi ke-28 orang itu, Selasa pagi, katanya. Sementara itu, hingga Senin malam jumlah korban meninggal yang telah terdata akibat gempa 7,2 SR diikuti tsunami pada Senin (25/10), tercatat sebanyak 426 orang dan yang masih dicari 75 orang.

Puting Hajar Cirebon

Puluhan pohon besar di pinggir jalan Kota Cirebon tumbang akibat tiupan angin puting beliung, Senin (1/11/2010) sore, menyebabkan arus lalu lintas tersendat dan memaksa pengguna jalan harus memutar.
Keadaan semakin parah saat angin puting beliung datang memutar hingga merobohkan lima pohon besar di Jalan Kembar tak jauh dari Stasiun Parujakan, Kota Cirebon.Meski angin puting beliung hanya berlangsung 10 menit, namun akibatnya cukup parah. Pohon-pohon tumbang ke jalan hingga menutup  akses kawasan tersebut. "Jalan tertutup total, kendaraan tidak bisa melintas sampai batang pohon tumbang yang melintang berhasil disingkirkan," kata Arif warga setempat.

Pohon tumbang juga terjadi di sejumlah jalan seperti Jalan Siliwangi, Tentara Pelajar, Veteran dan Cipto. Bahkan dua pohon besar di Jalan Siliwangi dekat Alun-alun Kejaksan Kota Cirebon tumbang ke jalan, namun beruntung tak ada kendaraan umum yang biasanya mangkal di kawasan tersebut. Andi salah seorang warga di Jalan Kartini mengatakan, angin bertiup berputar-putar di dari arah selatan menuju utara kemudian ke timur di sekitar jalan Siliwangi dan Kartini.

"Awalnya dari arah selatan Jalan Siliwangi kemudian berputar-putar menuju selatan. Pohon-pohon bergoyang dan sebagian  tercabut kemudian roboh ke jalan, terutama di dekat Alun-alun Kejaksan," kata Andi.
Pohon yang tumbang ke jalan cukup membuat repot petugas kepolisian dan TNI serta warga setempat. Hingga hujan reda sekitar pukul 19.00 WIB, petugas polisi dan warga masih tampak bergotong royong membersihkan jalan dari batang pohon yang melintang.

Wedus Gembel Gunung Merapi

Kompas - Gunung Merapi setidaknya menyemburkan sepuluh kali awan panas atau dijuluki wedhus gembel oleh warga setempat, Selasa (2/10/2010) pagi. Guguran  dalam ukuran sedang pertama kali terjadi sekitar pukul 05.25 WIB, guguran  dalam ukuran kecil sampai sedang terus terjadi hingga sekitar pukul 06.40 WIB. Berdasarkan laporan petugas pemantau di Balerante, Dusun Gondang, Kecamatan Kemalang, Jawa Tengah, seluruh guguran bergerak ke arah selatan dengan jarak luncur sekitar satu kilometer. Kepulan awan berwarna hitam dan kekuning-kuningan itu mengurai ketika tertiup angin ke arah timur. Pergerakan awan bervariasi, dari lambat hingga cepat. Tak hanya awan, guguran batu-batu vulkanik ikut meluncur dari puncak gunung.

Meski Merapi terus menyemburkan awan panas, warga tetap nekat kembali ke rumah. Seperti pagi ini, puluhan warga nekat kembali ke Desa Sambung Rejo yang berjarak sekitar 4 kilometer dari puncak Merapi. Dari lokasi pengungsian, mereka bergerak dengan menumpang truk. Truk sempat berhenti sesaat di sekitar pos pengamatan ketika melihat awan panas menyembur. Sebelumnya, Merapi mengeluarkan lava panas dan asap putih mulai pukul 03.30. Lava berwarna kemerah-merahan itu mengalir ke arah tenggara.